Rabu, 18 April 2012

apakah atlantis adalah indonesia???

Apakah Atlantis adalah Indonesia?
Yang lebih
menghebohkan lagi
adalah penelitian yang
dilakukan oleh Aryso
Santos, seorang
ilmuwan asal Brazil. Santos menegaskan bahwa Atlantis itu adalah
wilayah yang sekarang
ini disebut Indonesia.
Dalam penelitiannya
selama 30 tahun yang ditulis dalam sebuah
buku “Atlantis, The Lost Continent Finally Found,
The Definitifve
Localization of Plato’s
Lost Civilization” dia menampilkan 33
perbandingan, seperti
luas wilayah, cuaca, kekayaan alam, gunung
berapi, dan cara bertani,
yang akhirnya menyimpulkan bahwa
Atlantis itu adalah
Indonesia. Sistem
terasisasi sawah yang khas Indonesia,
menurutnya, ialah bentuk yang diadopsi
oleh Candi Borobudur,
Piramida di Mesir, dan
bangunan kuno Aztec di
Meksiko. Santos menetapkan bahwa pada masa lalu
Atlantis itu merupakan
benua yang
membentang dari
bagian selatan India, Sri Lanka, Sumatra, Jawa,
Kalimantan, terus ke arah timur dengan
Indonesia (yang
sekarang) sebagai
pusatnya. Di wilayah itu terdapat puluhan
gunung berapi yang aktif
dan dikelilingi oleh samudera yang
menyatu bernama
Orientale, terdiri dari Samudera Hindia dan
Samudera Pasifik.
Sedangkan menurut
Plato Atlantis merupakan benua yang hilang akibat
letusan gunung berapi yang secara bersamaan
meletus. Pada masa itu
sebagian besar bagian
dunia masih diliput oleh
lapisan-lapisan es (era Pleistocene). Dengan meletusnya berpuluh-
puluh gunung berapi
secara bersamaan yang
sebagian besar terletak di
wilayah Indonesia (dulu)
itu, maka tenggelamlah sebagian benua dan diliput oleh air asal dari
es yang mencair. Di
antaranya letusan
gunung Meru di India
Selatan dan gunung Semeru/Sumeru/
Mahameru di Jawa Timur. Lalu letusan
gunung berapi di
Sumatera yang
membentuk Danau Toba dengan pulau Somasir,
yang merupakan puncak
gunung yang meletus pada saat itu. Letusan
yang paling dahsyat di
kemudian hari adalah gunung Krakatau
(Krakatoa) yang
memecah bagian
Sumatera dan Jawa dan lain-lainnya serta
membentuk selat dataran Sunda. Santos berbeda
dengan
Plato mengenai lokasi
Atlantis. Ilmuwan Brazil
itu berargumentasi, bahwa pada saat
terjadinya letusan berbagai gunung berapi
itu, menyebabkan
lapisan es mencair dan
mengalir ke samudera
sehingga luasnya bertambah. Air dan lumpur berasal dari abu
gunung berapi tersebut
membebani samudera
dan dasarnya,
mengakibatkan tekanan
luar biasa kepada kulit bumi di dasar samudera, terutama
pada pantai benua.
Tekanan ini
mengakibatkan gempa.
Gempa ini diperkuat lagi oleh gunung-gunung
yang meletus kemudian secara beruntun dan
menimbulkan
gelombang tsunami
yang dahsyat. Santos menamakannya Heinrich
Events. Dalam usaha
mengemukakan pendapat mendasarkan
kepada sejarah dunia,
tampak Plato telah
melakukan dua kekhilafan, pertama
mengenai bentuk/posisi
bumi yang katanya datar. Kedua, mengenai
letak benua Atlantis yang
katanya berada di Samudera Atlantik yang
ditentang oleh Santos.
Penelitian militer Amerika
Serikat di wilayah Atlantik terbukti tidak
berhasil menemukan bekas-bekas benua yang
hilang itu. Oleh karena
itu tidaklah semena-
mena ada peribahasa
yang berkata, “Amicus Plato, sed magis amica veritas.” Artinya,”Saya
senang kepada Plato
tetapi saya lebih senang
kepada kebenaran.”
Namun, ada beberapa
keadaan masa kini yang antara Plato dan Santos sependapat. Yakni
pertama, bahwa lokasi
benua yang tenggelam
itu adalah Atlantis dan
oleh Santos dipastikan sebagai wilayah Republik
Indonesia. Kedua, jumlah atau panjangnya
mata rantai gunung
berapi di Indonesia. Di
antaranya ialah Kerinci, Talang, Krakatoa,
Malabar, Galunggung,
Pangrango, Merapi, Merbabu, Semeru,
Bromo, Agung, Rinjani.
Sebagian dari gunung itu telah atau sedang aktif
kembali.

Reaksi:

0 komentar:

Poskan Komentar

Visitor Country

free counters